Jan Koller, Raksasa Legendaris dari Republik Ceko

http://hmbgsb.com/wp-content/uploads/2017/03/jan-koller_1118952i.jpg

BERITA BOLA ONLINE – Dalam dunia bola basket, atlet dengan tinggi 202 cm tentu tidak akan menarik perhatian, tetapi beda halnya bila itu ada di dunia sepak bola. Hal itulah yang kemudian membuat Jan Koller mudah dikenali orang. Koller sendiri telah membuktikan bahwa ia bukan sekadar mudah diingat karena tubuh raksasanya saja.

Koller bukan pemain tertinggi yang pernah ada dalam sejarah dunia sepak bola, namun ia merupakan salah satu pemain yang mudah diingat karena postur tinggi-besar yang dimilikinya diimbangi kualitas mencetak gol yang menawan. Big Dino itulah julukan untuk Koller karena postur tubuhnya.

Setelah mengawali karier sepak bolanya sebagai kiper, Koller memutuskan untuk berpindah posisi menjadi striker. Ia pun kemudian malang melintang dari negara ke negara, mulai dari klub kampung halaman di Sparta Praha, lalu berlanjut ke Lokeren, Anderlecht, Borussia Dortmund, AS Monaco, Nurnberg, Krylia Sovetov Samara, dan Cannes.

Karier tersukses Koller tentunya ada di Dortmund saat ia mampu membawa tim tersebut jadi juara Bundesliga musim 2001/2002. Selain itu, Koller juga pernah merasakan manisnya titel Piala Rep.Ceko 1996, Liga Belgia 1999/2000 dan 2000/2001, dan Piala Super Belgia 2000 dan 2001.

Keberhasilan Jan Koller jadi pencetak gol terbanyak Liga Belgia mengundang perhatian Borussia Dortmund.Keberhasilan Jan Koller jadi pencetak gol terbanyak Liga Belgia mengundang perhatian Borussia Dortmund. (AFP PHOTO / BELGA / YVES BOUCAU)
Koller adalah tipikal striker sejati di kotak penalti. Sundulan kepala Koller adalah senjata utama pemain kelahiran 1973 itu.

Koller paham benar bagaimana ia memanfaatkan tinggi badannya. Terkadang, ia tak perlu meloncat tinggi untuk menyambut umpan silang rekannya. Bila Koller sudah melompat untuk menyambut umpan silang, maka yang bakal terjadi adalah sebuah gol sundulan yang keras dan mematikan.

Tetapi jangan membayangkan bahwa Koller hanya memiliki sundulan kepala sebagai senjata. Koller juga punya kemampuan olah bola yang mumpuni. Ia bisa menggiring bola dari luar kotak penalti, menyeruak masuk dan melepaskan tembakan keras. Tubuh raksasa milik Koller membuatnya sulit dihentikan lawan saat menggiring bola.

Walaupun berbobot besar, Koller juga piawai dalam mencari posisi di kotak penalti. Ia sering mencetak gol hanya dengan sentuhan ringan memanfaatkan umpan matang rekan setim yang dikirimkan kepadanya. Salah satunya kala mempecundangi kiper Belanda, Edwin van der Sar dalam kualifikasi Piala Eropa 2000 pada November 1999 silam. Menerima bola dari Pavel Nedved di kotak penalti, Koller yang telah berhadap-hadapan dengan Van der Sar melakukan feint untuk mengecoh sang kiper dan mencetak gol.

Selain aksinya di garis depan, satu hal lain yang patut dikenang dari Koller adalah ia pernah jadi penjaga gawang dadakan dalam big match Dortmund lawan Bayern Munich pada musim 2002/2003.

Saat Jens Lehmann dikeluarkan wasit dan pergantian pemain Dortmund telah habis, Koller menunjukkan sisa-sisa kepiawaiannya sebagai penjaga gawang di menit ke-67. Meski Dortmund kalah 1-2 di akhir pertandingan, tetapi Koller sukses tampil brilian dan tak kebobolan oleh barisan striker Munich.

BACA JUGA : Ingin Boyong Kembali Thiago Alcantara? Barca Harus Bayar Rp 1,3 Triliun
Tolok ukur bahwa Koller tak sepatutnya hanya dikenal lewat sosok raksasa-nya saja adalah statusnya sebagai penyerang tersubur dalam sejarah Timnas Rep.Ceko. Koller membuktikan bahwa ia memang salah satu sosok striker sejati yang juga patut dinilai dari gol-golnya.

Koller mencetak 55 gol untuk Timnas Rep.Ceko sepanjang kariernya. Ia lebih tajam dari barisan striker hebat Rep.Ceko lainnya seperti Milan Baros (41), Vladimir Smicer (27), Tomas Rosicky (23), dan Pavel Kuka (22). Umur rekor gol Koller sendiri sepertinya masih akan bertahan lama lantaran sejauh ini belum ada pemain aktif Rep.Ceko yang memiliki gol mendekati Koller.

Sayangnya, Koller dan bintang lainnya seperti PaveL Nedved, Baros, Smicer, Petr Cech, Rosicky, hingga Marek Jankulovski gagal membawa Rep.Ceko berjaya di pentas internasional. Prestasi terbaik mereka adalah semifinal Piala Eropa 2004.

Jan Koller dan kawan-kawan kalah dari Yunani di semifinal Piala Eropa 2004.Jan Koller dan kawan-kawan kalah dari Yunani di semifinal Piala Eropa 2004. (AFP PHOTO / JOE KLAMAR
Sang raksasa meninggalkan lapangan hijau pada tahun 2011 setelah membela Cannes. Koller masih mampu mencetak 16 gol di musim terakhirnya namun harus menyerah pada cedera yang menggerogotinya.

“Sejak April, saya memiliki banyak masalah terkait cedera. Saya rasa itu adalah peringatan terakhir bagi saya untuk pensiun. Saya sudah mempersiapkan momen ini sejak lama dan kini hal itu telah tiba,” kata Koller.

Di usianya kini yang menginjak 44 tahun, Koller sepatutnya bangga atas pencapaian yang telah diraihnya sebagai seorang pesepakbola. Raksasa Rep.Ceko itu telah menorehkan tinta emas dalam sejarah sepak bola negaranya. Selamat ulang tahun Jan Koller.